Minggu lalu, guru mata kuliah ‘Complete Collection of DDM’ memberikan tugas kepada kami untuk menyusun draf ceramah, kami dibagi dalam beberapa kelompok dimana masing-masing kelompok memiliki target audience yang berbeda. Saya masuk dalam kelompok ketujuh, dimana guru kami tidak menentukan target audience untuk kami. Permasalahannya muncul disini, setelah keluar dari kelas, kami mulai mendiskusikan tugas tersebut, muncul 2 versi, pertama guru pembimbing tadi meminta kami menentukan target audience sendiri yang sama untuk kelompok kami, tapik topik ceramah mesti beda per individu, kedua ada sahabat yang mendengar bahwa guru pembimbing membolehkan kami menentukan target pendengar dan topik yang berbeda untuk setiap individu dalam kelompok ini. Nah, mana yang benar?
Seorang sahabat meng-email guru pembimbing, tapi entah pertanyaannya kurang jelas atau sang guru tidak mengerti pertanyaannya, akhirnya jawaban dari guru pembimbing juga tidak kami mengerti
Dari sini saya kepikir, untuk hal yang sepele ini saya kami bisa punya interpretasi yang berbeda… maka sangat wajar jika muncul begitu banyak interpretasi yang berbeda terhadap Dharma setelah Buddha Sakyamuni parinirvana, hingga akhirnya memunculkan begitu banyak perguruan/sekte. Saya juga coba melihat sekilas perkembangan agama-agama besar di dunia ini, dan ternyata tidak ada satupun agama besar yang tidak mengalami perbedaan interpretasi atas ajaran pendiri agama tersebut, sehingga akhirnya memunculkan berbagai aliran. Kadang perpecahan itu, murni karena penafsiran terhadap ajaran atau pembaharuan terhadap ajaran, tapi tidak jarang yang muncul karena faktor ‘ego’ dari individu atau kelompok, bahkan ada juga yang karena faktor politik. Karena perpecahan tersebut, tidak jarang muncul perdebatan, saling menyerang bahkan hingga peperangan antar aliran dalam satu agama.
Agama yang harusnya membawakan kedamaian dan rasa pembebasan itu, kadang malah menjadi sumber dari kekerasan dan kebencian… tapi yang salah sebenarnya adalah agama itu atau orangnya?
Buddhadharma juga demikian, jika kita mampu melihat secara mendalam, mengupas habis ornamen-ornamen ‘perguruan’, ‘kebudayaan’, dan label ‘agama Buddha’ yang melekat padanya… saya yakin kita akan mampu melihat Dharma yang sesungguhnya.
