Perbedaan pendapat

10 11 2008

Minggu lalu, guru mata kuliah ‘Complete Collection of DDM’ memberikan tugas kepada kami untuk menyusun draf ceramah, kami dibagi dalam beberapa kelompok dimana masing-masing kelompok memiliki target audience yang berbeda. Saya masuk dalam kelompok ketujuh, dimana guru kami tidak menentukan target audience untuk kami. Permasalahannya muncul disini, setelah keluar dari kelas, kami mulai mendiskusikan tugas tersebut, muncul 2 versi, pertama guru pembimbing tadi meminta kami menentukan target audience sendiri yang sama untuk kelompok kami, tapik topik ceramah mesti beda per individu, kedua ada sahabat yang mendengar bahwa guru pembimbing membolehkan kami menentukan target pendengar dan topik yang berbeda untuk setiap individu dalam kelompok ini. Nah, mana yang benar?

Seorang sahabat meng-email guru pembimbing, tapi entah pertanyaannya kurang jelas atau sang guru tidak mengerti pertanyaannya, akhirnya jawaban dari guru pembimbing juga tidak kami mengerti ;)

Dari sini saya kepikir, untuk hal yang sepele ini saya kami bisa punya interpretasi yang berbeda… maka sangat wajar jika muncul begitu banyak interpretasi yang berbeda terhadap Dharma setelah Buddha Sakyamuni parinirvana, hingga akhirnya memunculkan begitu banyak perguruan/sekte. Saya juga coba melihat sekilas perkembangan agama-agama besar di dunia ini, dan ternyata tidak ada satupun agama besar yang tidak mengalami perbedaan interpretasi atas ajaran pendiri agama tersebut, sehingga akhirnya memunculkan berbagai aliran. Kadang perpecahan itu, murni karena penafsiran terhadap ajaran atau pembaharuan terhadap ajaran, tapi tidak jarang yang muncul karena faktor ‘ego’ dari individu atau kelompok, bahkan ada juga yang karena faktor politik.  Karena perpecahan tersebut, tidak jarang muncul perdebatan, saling menyerang bahkan hingga peperangan antar aliran dalam satu agama.

Agama yang harusnya membawakan kedamaian dan rasa pembebasan itu, kadang malah menjadi sumber dari kekerasan dan kebencian… tapi yang salah sebenarnya adalah agama itu atau orangnya?

Buddhadharma juga demikian, jika kita mampu melihat secara mendalam, mengupas habis ornamen-ornamen ‘perguruan’, ‘kebudayaan’, dan label ‘agama Buddha’ yang melekat padanya… saya yakin kita akan mampu melihat Dharma yang sesungguhnya.





Marah

10 11 2008

Kemarahan sering begitu mudah muncul, kadang hanya karena hal yang sangat sepele; karena sahabat Dharma yang menyebalkan, karena adu argumen, karena pembimbingan yang sering tidak selaras antara ucapan dan perilaku, karena peraturan yang tidak konsisten di seminari ini, karena dia…., karena itu…. dan begitu banyak sekali hal yang dengan mudah memicu amarahku. Celakanya, kadang aku baru menyadarinya cukup lama setelah amarah itu muncul, kadang aku sadar tapi aku tidak mampu menahan gejolaknya yang terus menerus membakar selama berhari-hari.

Dalam retret, Master Sheng-yen selalu mengatakan, “tidak takut munculnya bentuk-bentuk pikiran, yang dikawatirkan adalah kita telat menyadarinya”. Disini dapat dilihat begitu lemahnya kekuatan ’sati’ atau kesadaran, sehingga kemarahan memiliki kesempatan untuk muncul, setelah muncul aku juga tidak punya kekuatan untuk memberhentikannya saat itu juga, malah kadangkala membiarkannya dan terseret bersamanya. Akibatnya bisa begitu fatal, perasaan tidak enak, benci, tidak mood untuk mengerjakan sesuatu, sebel dengan orang tertentu dan lain sebagainya. Akhirnya yang menderita adalah diri sendiri, dan bisa juga memberikan efek yang tidak baik bagi sahabat-sahabat disekeliling yang mungkin saja disakiti oleh ucapan atau perbuatanku yang disebabkan amarah itu.

Menyadari begitu lemahnya kemampuan untuk mengatasi kemarahan, saya benar-benar merasakan penyesalan yang mendalam dan bertekad untuk terus memperkuat praktik. Saya ingat ketika saya menerima wisudi Trisarana oleh Y.M. Zurmang Garwang Rinpoche belasan tahun yang lalu, saya mendapatkan nama ‘Karma Zopa’, zopa artinya kesabaran (patience), waktu itu saya merasa kok bisa begitu pas, karena saya termasuk orang yang kurang sabar…. tapi setelah belasan tahun, saya juga belum mampu mempraktikkannya dengan baik. Kesabaran merupakan salah satu praktik bodhisattva yang sangat penting. Tanpa adanya kesabaran dan keuletan yang terus menerus, praktik kita akan sangat sulit mengalami kemajuan.