Sudah lama gak posting

25 10 2009

Sudah lama tidak nulis dan update blog… semoga dalam waktu dekat ini bisa update lagi.





From DDM Taiwan: Master Sheng Yen’s Cremation Ceremony

10 02 2009

Minggu pagi (08/02) pukul 09.00, diiringi gerimis, dengan diantar ratusan anggota sangha dan puluhan ribu umat yang berlutut sambil melantunkan “amituofo”, peti jenazah Shigong secara perlahan didorong keluar dari main hall Dharma Drum dan diantar meninggalkan Dharma Drum menuju tempat kremasi di Miao Li. 

Setelah menempuh perjalanan 2,5 jam dari DDM kami tiba di Miao Li, sepanjang lebih kurang 1 Km sebelum tempat upacara kremasi sudah terlihat barisan relewan dan umat yang sedang menanti ketibaan rombongan anggota sangha dan peti jenazah Shigong.  Sekitar pukul 15.00 peti jenazah Shigong sampai dilokasi krematorium Juan Hua Tang (Miao Li), disambut anggota sangha dan umat yang berlutut menyambut datangnya peti jenazah.

Setelah upacara singkat di Buddha hall, peti jenazah di dorong menujuh krematorium yang bersebelahan, dimana hanya anggota sangha yang dapat masuk kedalam ruangan kremasi. Semua anggota sangha berlutut mengantarkan peti jenazah Shigong, tanpa terasa air mata kembali mengalir…. beberapa anggota sangha, terutama para attandance yang melayani Shigong selama hidupnya, tampak tidak dapat lagi mengontrol tangisannya.

Setelah peti jenazah Shigong masuk ke ruang krematorium dan anggota sangha meninggalkan ruangan, umat dipersilahkan memberikan penghormatan di depan foto Shigong. Kemudian para anggota sangha DDM dan kami para siswa DDSU berbaris sepanjang jalan keluar krematorium mengantarkan kepulangan puluhan ribu umat yang berdatangan dari berbagai penjuru Taiwan dan dunia, sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka.

Kami tiba kembali ke DDM sekitar pukul 20.30, beristirahat sejenak… sekitar pukul 22.30 lonceng dibunyikan.. . kami pun berkumpul kembali di main hall menyambut kedatangan kembali abu jenazah dan relik Shigong (semuanya telah dihancurkan dan dimasukkan dalam satu kotak — karena sesuai pesan beliau, tidak boleh mencari relik (sarira) beliau). Sekitar pukul 23.30  relik Shigong sampai di main hall, diiringi dentuman gong dan tambur serta alunan suara nian fo. Relik Shigong ditempatkan dikursi rotan, tempat duduk yang biasanya dipergunakan beliau saat memberikan ceramah. Relik Shigong akan ditempatkan di main hall hingga tanggal 15/2, dan selama 24 jam terus diadakan pelafalan nama Buddha sebagai ungkapan terima kasih kepada beliau. Umat juga tetap dapat memberikan penghormatan kepada relik beliau.

Tanggal 15/2 nanti relik beliau (yang telah digiling halus) akan ditempatkan di 5 bungkus ‘plastik ramah lingkungan’ dan akan dimasukkan kedalam tanah di “Taman Kehidupan” yang berlokasi di komplek DDM.

PS: Taman Kehidupan adalah sebidang tanah yang disumbangkan DDM ke pemerintah kabupaten Taipei, yang diperuntukkan bagi pelarungan abu sisa pembakaran jenazah ke dalam tanah. Disana tidak ada nisan, tidak ada tanda khusus. Abu jenazah akan dimasukkan kedalam beberapa plastik ramah lingkungan yang dapat melebur dengan tanah, lalu dimasukkan kedalam lubang-lubang kecil yang berdiameter sekitar 10cm.

Konsep ini ditawari Shigong untuk mengatasi banyak tanah2 produktif yang telah berubah fungsi menjadi tanah perkuburan atau rumah abu elite. Dengan tanpa nisan, atau tanda khusus, serta membagi abu jenazah kedalam lubang2 yang berbeda secara random dimaksudkan pula mengikis keterikatan kita terhadap adanya sesuatu untuk diperingati. …. mungkin karena itu pula, beliau memberikan contoh langsung.

link video berita kremasi Shigong (in mandarin):
http://www.youtube. com/watch? v=WtgNhd46A6M
http://www.youtube. com/watch? v=ROFKUL1_ K_8

Berita terkait:
http://www.youtube. com/results? uploaded= m&search_query= %E8%81%96% E5%9A%B4





From DDM Taiwan: Master Sheng Yen’s wake & funeral

10 02 2009
Sore itu saat menemani GJFS di Singapore, tiba-tiba hp beliau berdering dan setelah menutup telp beliau langsung memberi kabar, “Shigong telah pergi”. Sore itu sesuai jadwal saya terbang kembali ke Jakarta, langsung mengurus perubahan jadwal penerbangan saya ke Taiwan menjadi tanggal 5/2.
 
Tiba di Taiwan sudah jam 17.30, saya dan Chuan Wu Fashi segera menaiki bus ke Taipei untuk nyambung ke bus ke DDM, di stasiun Taipei sempat melihat serombangan umat yang baru turun dari DDM. Tibar di DDM sudah jam 22.00an, langsung menuju monk quarter untuk melaporkan kepulangan kami dan meletakan koper, di monk quarter ternyata orang pertama yang kami ketemui adalah Chang Tuo Fashi, beliau langsung mengantar kami ke kamar baru kami (setiap semester kami akan berganti kamar).
 
Kami langsung ke main hall dan bernamaskara dihadapan jenazah Shigong, lalu bergabung dengan anggota sangha dan umat lainnya yang sedang nian-fo (melafalkan ‘namo amituofo’). Saat itu air mata saya tidak tertahan lagi. Saat itu sudah hampir pukul 24.00, tapi masih banyak umat yang terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Shigong, seorang guru besar yang sangat dihormati dunia.

Pagi 6/2 diadakan upacara tutup peti. Sebelum upacara dimulai, masih melihat banyak umat dan tokoh masyarakat yang berdatangan. ..  Tepat pukul 09.00 upacara tutup peti yang dipimpin Ven. Mahabiksu Jin Neng (vice president WBSC) dimulai, pada saat kami (anggota sangha) diberi kesempatan terakhir untuk melihat Shigong dengan berpradaksina mengelilingi peti jenazah, air mata kembali menetes.

 
Walaupun saat ini kita tidak dapat lagi melihat tubah fisik Shigong, namun tubuh Dharma beliau yang akan terus bersama kita. Di main hall saat ini, disamping kanan kiri peti jenazah Shigong diletakkan masing-masing satu set “Complete Collection of DDM” dan papan dupa, sebagai simbol Tubuh Dharma dan Metode Chan dari Shigong.
 
Besok (8/2) akan diadakan upacara kremasi, lalu 15/2 abu shigong akan ditabur ke “Taman Kehidupan” yang juga berada di komplek DDM.  
Mulai 3/2 hingga 15/2 nanti selama 24 jam, di main hall DDM akan terus diadakan pelafalan nama Buddha.




Verse of No Mark

21 11 2008

From The Sixth Patriarch’s Dharma Jewel Platform Sutra

 

With speech and mind both understood,

Like the sun whose place is in space,

Just spread the ‘seeing-the-nature way’

Appear in the world to destroy false doctrines.

 

Dharma is neither sudden nor gradual,

Delusion and awakening are slow and quick

But deluded people cannot comprehend

This Dharma-door of seeing-the-nature.

 

Although it is said in ten thousand ways,

United, the principles return to one;

In the dark dwelling of defilements,

Always produce the sunlight of wisdom.

 

The deviant comes and affliction arrives,

The right comes and affliction goes.

The false and true both cast aside,

In clear purity the state of no residue is attained.

 

Bodhi is the original self-nature;

Giving rise to a thought is wrong;

The pure mind is within the false:

Only the right is without the three obstructions.

 

If people in the world practice the Way,

They are not hindered by anything.

By constantly seeing their own transgressions,

They are in accord with the Way.

 

Each kind of form has its own way

Without hindering one another;

Leaving the Way to seek another way

To the end of life is not to see the Way.

 

A frantic passage through a life,

Will bring regret when it comes to its end.

Should you wish for a vision of the true Way,

Right practice is the Way.

 

If you don’t have a mind for the Way,

You walk in darkness blind to the Way;

If you truly walk the Way,

You are blind to the faults of the world.

 

If you attend to others’ faults,

Your fault-finding itself is wrong;

Others’ faults I do not treat as wrong;

My faults are my own transgressions.

 

Simply cast out the mind that finds fault,

Once cast away, troubles are gone;

When hate and love don’t block the mind,

Stretch out both legs and then lie down.

 

If you hope and intend to transform others,

You must perfect expedient means.

Don’t cause them to have doubts, and then

Their self-nature will appear.

 

The Buddhadharma is here in the world;

Enlightenment is not apart from the world.

To search for Bodhi apart from the world

Is like looking for a hare with horns.

 

Right views are transcendental;

Deviant views are all mundane.

Deviant and right completely destroyed:

The Bodhi nature appears spontaneously.

 

This verse is the Sudden Teaching,

Also called the great Dharma boat.

Hear in confusion, pass through ages,

In an instant’s space, enlightenment.”

 

 

無相頌

 

 

說通及心通。如日處虛空。唯傳見性法。出世破邪宗。

 

法即無頓漸。迷悟有遲疾。只此見性門。愚人不可悉。

 

說即雖萬般。合理還歸一。煩惱暗宅中。常須生慧日。

 

邪來煩惱至。正來煩惱除。邪正俱不用。清淨至無餘。

 

菩提本自性。起心即是妄。淨心在妄中。但正無三障。

 

世人若修道。一切盡不妨。常自見己過。與道即相當。

 

色類自有道。各不相妨惱。離道別覓道。終身不見道。

 

波波度一生。到頭還自懊。欲得見真道。行正即是道。

 

自若無道心。闇行不見道。若真修道人。不見世間過。

 

若見他人非。自非卻是左。他非我不非。我非自有過。

 

但自卻非心。打除煩惱破。憎愛不關心。長伸兩腳臥。

 

欲擬化他人。自須有方便。勿令彼有疑。即是自性現。

 

佛法在世間。不離世間覺。離世覓菩提。恰如求兔角。

 

正見名出世。邪見是世間。邪正盡打卻。菩提性宛然。

 

此頌是頓教。亦名大法船。迷聞經累劫。悟則剎那間。

 





順治皇帝讚僧詩

17 11 2008

Kidung Pujian terhadap Sangha

oleh Kaisar Shun Zhi

順治皇帝讚僧詩
download mp3

天下叢林飯似山 缽盂到處任君餐
黃金白玉非為貴 唯有袈裟披肩難
朕本大地山河主 憂國憂民事轉煩
百年三萬六千日 不及僧家半日閒
來時糊塗去時迷 空在人間走這回
未曾生成誰是我 生我之時我是誰
長大成人方是我 合眼朦朧又是誰
不如不來又不去 來時歡喜去時悲
悲歡離合多勞慮 何日清閑誰得知
若能了達僧家事 從此回頭不算遲
世間難比出家人 無憂無慮得安宜
口中喫得清和味 身上常穿百衲衣
五湖四海為上客 皆因夙世種菩堤
個個都是真羅漢 披搭如來三等衣
金烏玉兔東復西 為人切莫用心機
百年世事三更夢 萬里乾坤一局棋
禹開九州湯放桀 秦吞六國漢登基
古來多少英雄漢 南北山頭臥土泥
黃袍換的紫袈裟 只為當年一念差
我本西方一衲子 為何生在帝王家
十八年來不自由 南征北討幾時休
我今撒手西方去 不管千秋與萬秋
打破虛空笑滿腮 玲瓏寶藏豁然開
直饒空劫生前事 六字洪名畢竟該




Perbedaan pendapat

10 11 2008

Minggu lalu, guru mata kuliah ‘Complete Collection of DDM’ memberikan tugas kepada kami untuk menyusun draf ceramah, kami dibagi dalam beberapa kelompok dimana masing-masing kelompok memiliki target audience yang berbeda. Saya masuk dalam kelompok ketujuh, dimana guru kami tidak menentukan target audience untuk kami. Permasalahannya muncul disini, setelah keluar dari kelas, kami mulai mendiskusikan tugas tersebut, muncul 2 versi, pertama guru pembimbing tadi meminta kami menentukan target audience sendiri yang sama untuk kelompok kami, tapik topik ceramah mesti beda per individu, kedua ada sahabat yang mendengar bahwa guru pembimbing membolehkan kami menentukan target pendengar dan topik yang berbeda untuk setiap individu dalam kelompok ini. Nah, mana yang benar?

Seorang sahabat meng-email guru pembimbing, tapi entah pertanyaannya kurang jelas atau sang guru tidak mengerti pertanyaannya, akhirnya jawaban dari guru pembimbing juga tidak kami mengerti ;)

Dari sini saya kepikir, untuk hal yang sepele ini saya kami bisa punya interpretasi yang berbeda… maka sangat wajar jika muncul begitu banyak interpretasi yang berbeda terhadap Dharma setelah Buddha Sakyamuni parinirvana, hingga akhirnya memunculkan begitu banyak perguruan/sekte. Saya juga coba melihat sekilas perkembangan agama-agama besar di dunia ini, dan ternyata tidak ada satupun agama besar yang tidak mengalami perbedaan interpretasi atas ajaran pendiri agama tersebut, sehingga akhirnya memunculkan berbagai aliran. Kadang perpecahan itu, murni karena penafsiran terhadap ajaran atau pembaharuan terhadap ajaran, tapi tidak jarang yang muncul karena faktor ‘ego’ dari individu atau kelompok, bahkan ada juga yang karena faktor politik.  Karena perpecahan tersebut, tidak jarang muncul perdebatan, saling menyerang bahkan hingga peperangan antar aliran dalam satu agama.

Agama yang harusnya membawakan kedamaian dan rasa pembebasan itu, kadang malah menjadi sumber dari kekerasan dan kebencian… tapi yang salah sebenarnya adalah agama itu atau orangnya?

Buddhadharma juga demikian, jika kita mampu melihat secara mendalam, mengupas habis ornamen-ornamen ‘perguruan’, ‘kebudayaan’, dan label ‘agama Buddha’ yang melekat padanya… saya yakin kita akan mampu melihat Dharma yang sesungguhnya.





Marah

10 11 2008

Kemarahan sering begitu mudah muncul, kadang hanya karena hal yang sangat sepele; karena sahabat Dharma yang menyebalkan, karena adu argumen, karena pembimbingan yang sering tidak selaras antara ucapan dan perilaku, karena peraturan yang tidak konsisten di seminari ini, karena dia…., karena itu…. dan begitu banyak sekali hal yang dengan mudah memicu amarahku. Celakanya, kadang aku baru menyadarinya cukup lama setelah amarah itu muncul, kadang aku sadar tapi aku tidak mampu menahan gejolaknya yang terus menerus membakar selama berhari-hari.

Dalam retret, Master Sheng-yen selalu mengatakan, “tidak takut munculnya bentuk-bentuk pikiran, yang dikawatirkan adalah kita telat menyadarinya”. Disini dapat dilihat begitu lemahnya kekuatan ’sati’ atau kesadaran, sehingga kemarahan memiliki kesempatan untuk muncul, setelah muncul aku juga tidak punya kekuatan untuk memberhentikannya saat itu juga, malah kadangkala membiarkannya dan terseret bersamanya. Akibatnya bisa begitu fatal, perasaan tidak enak, benci, tidak mood untuk mengerjakan sesuatu, sebel dengan orang tertentu dan lain sebagainya. Akhirnya yang menderita adalah diri sendiri, dan bisa juga memberikan efek yang tidak baik bagi sahabat-sahabat disekeliling yang mungkin saja disakiti oleh ucapan atau perbuatanku yang disebabkan amarah itu.

Menyadari begitu lemahnya kemampuan untuk mengatasi kemarahan, saya benar-benar merasakan penyesalan yang mendalam dan bertekad untuk terus memperkuat praktik. Saya ingat ketika saya menerima wisudi Trisarana oleh Y.M. Zurmang Garwang Rinpoche belasan tahun yang lalu, saya mendapatkan nama ‘Karma Zopa’, zopa artinya kesabaran (patience), waktu itu saya merasa kok bisa begitu pas, karena saya termasuk orang yang kurang sabar…. tapi setelah belasan tahun, saya juga belum mampu mempraktikkannya dengan baik. Kesabaran merupakan salah satu praktik bodhisattva yang sangat penting. Tanpa adanya kesabaran dan keuletan yang terus menerus, praktik kita akan sangat sulit mengalami kemajuan.





Bloging

7 11 2008

Berawal iseng dan terinspirasi oleh sahabat spiritual sekaligus kakak seperguruan saya…. saya mencoba membuat blog ini. Mencoba untuk belajar/latihan menulis, karena saya masih sangat lemah dalam mengekspresikan pemikiran saya dalam bentuk tulisan.

Saya pernah mencaba dengan dunia blog, tapi tidak pernah konsisten :)
Semoga kali ini saya bisa konsisten menulis pemikiran saya, dan pengalaman serta catatan harian atas praktik saya sebagai refleksi bagi saya pribadi.

Mohon saran dan nasihat dari anda semua….





Setiap Hari adalah Hari Yang Indah

7 11 2008

Setiap hari adalah hari yang indah, setiap momen adalah momen yang luar biasa… sebuah kalimat yang sering kita dengar, sering kita ucapkan dan terlihat sangat mudah dipahami… namun ternyata untuk benar-benar mempraktikkannya adalah sangat tidak mudah.

Belakangan ini saya merasakan sulitnya berada dalam kekinian itu dan kemampuan untuk menyadari bentuk-bentuk pikiran yang muncul serta menyeret kita entah kemana.

Saya rasa mungkin tekad dan semangat saya memang masil lemah dan rapuh, dengan begitu mudah saya ‘terkalahkan’. Hanya dengan terus kembali lagi dan kembali lagi kepada latihan…. mungkin itulah satu-satunya cara, sungguh tidak ada jalan lain…. keuletan dan semangatlah yang perlu saya tingkatkan terus.

Maha Prajnaparamita!
Maha Prajnaparamita!
Maha Prajnaparamita!